20 Daerah Aliran Sungai di Aceh Mengalami Kerusakan

Daerah Aliran Sungai di Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah
Daerah Aliran Sungai di Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah

Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Krueng Aceh, Eko Nurwijayanto, mengatakan Aceh memiliki 954 Daerah Aliran Sungai (DAS). 20 diantaranya, sudah terjadi kerusakan.


"DAS itu sendiri 60 persen berada di kawasan hutan dan 30 persen itu berada di kawasan penggunaan lain," kata Eko, dalam acara bertajuk "DAS Kritis, Menanti Bencana" yang digagas Forum Jurnalis Lingkungan bersama Walhi Aceh, Selasa, 7 September 2021.

Eko menyebutkan di kawasan hutan DAS sudah ada perladangan, perkebunan, dan pertambangan. Eko meminta agar ada kesamaan persepsi semua pihak untuk kondisi lingkungan yang lebih baik. "Perlu adanya pemanfaatan ruang secara bijak," kata Eko.

Menurut Eko, jika tutupan hutan memiliki areal sungai yang masih baik, tentu potensi bencana alam juga akan berkurang.

Teknik Pengairan Madya Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I Banda Aceh, Agustian, menyebutkan di Aceh yang paling rawan terhadap bencana banjir bandang ialah Aceh Singkil dan Aceh Utara.

"Sebab di daerah itu ada Sungai Alas yang potensi bencana banjir bandangnya sangat tinggi.  Disebabkan juga karena perambahan hutan, ilegal logging, dan perusakan aliran sungai," kata Agustian.

Kepala Seksi Pencegahan, Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Yudhie Satria, mengatakan dalam kondisi tingginya bencana alam terjadi di Aceh, BPBA terus berupaya untuk meminta warga siap siaga.

"Sebab di Aceh sendiri saat ini bencana alam berupa banjir dan tanah longsor sudah menjadi langganan," kata Yudhie.

Yudhi menyebutkan di Aceh, bencana banjir genangan paling rendah. Bertahan hanya tiga jam. Tak heran jika Aceh langganan banjir dibeberapa daerah.

Dosen Teknik Geologi Universitas Syiah Kuala (USK), Ibnu Rusydi, menjelaskan ada beberapa faktor pemicu terjadinya banjir. Curah hujan tinggi, beban lereng, gempa bumi, geometri tanah.

Ibnu menjelaskan faktor curah hujan tersebut memang tidak bisa dihindari. Untuk itu, perlu ada penahan air agar tidak mudah terjadi longsor dan banjir. Seperti, perpohonan.

"Kemudian pembebanan terhadap lereng, seperti pembangunann perumahan dan infrastruktur di atas tanah yang rawan longsor," kata Ibnu.

Perubahan bentuk geometri, kata Ibnu, juga menjadi akibat terjadi longsor. Bahkan, peristiwa gempa bumi juga bisa merubah struktur tanah dan lereng.

"Itulah pentingnya pohon yang bisa membuat sebagai daya tahan untuk mencegah longsor itu terjadi," kata Ibnu.

Menurut Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh, M. Nur, penyebab tingginya bencana alam di Aceh karena maraknya kasus pertambangan ilegal dan praktik galian C di sejumlah aliran sungai di Aceh.

Hampir semua aliran sungai di Aceh, kata dia, mengalami deforestasi aliran sungai. Sebab terjadi penurunan bahan baku atau material disana.

"Ini perlu ada penertiban dan pertambangan itu juga harus dibatasi. Baik itu pertambangan ilegal maupun legal itu berdampak pada sungai yang membuat alirannya tercemar," kata M Nur.

Berdasarkan data BPBA, kasus bencana ekologi di Aceh kian meningkat. Hingga Agustus 2021, sebanyak 423 kali terjadi bercana. Dengan taksiran kerugian mencapai Rp874,1 miliar.

Koordinator FJL Aceh, Zulkarnaini Masry, menyebutkan kawasan sungai di Aceh sudah menjadi areal perkebunan sawit. Akibatnya, kerap menimbulkan bencana. 

Bahkan, kata dia, bencana juga memicu angka kemiskinan di Aceh. Jika mitigasi dilakukan dengan baik, angka bencana alam dapat ditekan.