Banjir Bandang Aceh Tengah, Tiga Rumah Rata dengan Tanah

Banjir bandang di Kebayakan, Aceh Tengah, merusak sedikitnya 57 rumah. Banjir juga merusak areal perkebunan warga, dan menyeret tiga unit mobil dan satu sepeda motor.


“Dampak material 31 unit rumah rusak berat, 26 sedang, kebun warga terendam air, dan 3 mobil serta 1 sepeda motor rusak berat," kata Kepala Badan Penanggungan Bencana Aceh (BPBA), Sunawardi, Kamis, 14 Mei 2020.

Banjir bandang juga mencederai empat warga Desa Paya Tumbi Baru dan satu warga Desa Paya Tumbi Induk, Kecamatan Kebayakan. Sebanyak 10 keluarga, atau 33 jiwa, mengungsi ke bangunan sekolah di dekat tempat tinggal mereka. Sementara 15 KK atau 56 jiwa lainnya mengungsi ke rumah keluarga masing-masing.

Di areal bencana, BPBA mendirikan posko bersama tempat pengungsian dan dapur umum bersama Tagana Dinas Sosial Aceh Tengah. Bantuan tanggap darurat Dinas Sosial Kabupaten Aceh Tengah telah disalurkan dan alat berat sudah berada di lokasi," kata Sunawardi.

Petugas juga mulai mengevakuasi dan membersihkan daerah dari lumpur dan batang kayu yang terseret air. Di mulai dari jalan umum. Sunawardi juga mengungkapkan bahwa akses Jalan Takengon-Bireuen sudah dibuka dan normal kembali.

"Jalan perkampungan Desa Daling, Kecamatan Bebesen, masih tertimbun material lumpur, namun masih bisa dilalui kendaraan roda dua dan roda empat," kata Sunawardi.

Kepala BPBD Aceh Tengah, Ishak, mengatakan saat ini pihaknya tengah mendata jumlah kerugian dan korban akibat banjir ini. Saat ini sejumlah korban pengungsian, terutama warga Paya Tumpi Baru, membutuhkan pembangkit listrik karena aliran listrik di daerah mereka terputus.

Menurut Ishak, tiga desa menjadi daerah mengalami dampak banjir bandang terparah. Yakni Jalan Bireuen-Takengon di Kampung Weh Decher Kecamatan Kebayakan. Kampung ini berbatasan dengan kampung Paya Tumpi baru.

Kedua Kampung Paya Tumpi Induk serta Kampung Paya Tumpi Baru (Tetor Pemulo). Di desa ini, tiga rumah dan satu musala rusak berat tertimbun longsor. “Bahkan ada rumah yang rata dengan tanah,” kata Ishak. [r]