Harga Diri Setumpuk Daging

Ada hal yang perlu diperhatikan oleh calon pengantin menjelang Ramadan, Idul Fitri dan Idul Adha, di Aceh. Adat dan kebiasaan itu bernama meugang atau mak meugang.


“Ini menyangkut harga diri,” kata pemerhati sejarah Aceh, Tarmizi Abdul Hamid alias Cek Midi, Sabtu, 1 Agustus 2020. “Para pengantin pria harus memahami hal itu. Menjelang hari-hari besar itu, sudah menjadi kebiasaan di Aceh bahwa seorang pria dewasa membawa setumpuk daging untuk diolah menjadi masakan yang dinikmati bersama keluarga.”

Menurut Cek Midi, budaya ini sangat melekat dalam adat istiadat Aceh. Termasuk bagi seorang pengantin pria yang baru saja menikah. Sebagai orang yang baru masuk ke dalam sebuah keluarga besar, seorang pengantin pria harus menyesuaikan diri, memperkenalkan diri dan mengenal orang-orang kampung tempat istrinya tinggal.

Cek Midi mengatakan proses adat tersebut termaktub dalam Qanun Meukuta Alam. Jadi, budaya meugang, bagi seorang pangantin pria, merupakan hal istimewa bagi dirinya sendiri maupun bagi keluarga istrinya.

Namun, si pria tak boleh membawa langsung daging itu atau memberikan langsung daging itu kepada keluarga. Daging meugang yang harus diantar oleh saudara maupun kerabat. “Si suami cukup membeli. Yang mengantarkan daging tadi nanti mendapatkan hak adat juga,” kata Cek Midi.

Menurut Cek Midi, mengantarkan daging meugang ke rumah keluarga istri adalah perlambang bahwa si suami mampu memberikan nafkah kepada istrinya. Tradisi tersebut, lanjut Cek Midi, merupakan hal yang dianjurkan dalam adat Aceh.

Saat pertama sekali linto baroe naik ke rumah dara baroe dan berhadapan dengan hari meugang maka harus menyelesaikan proses-proses adat tersebut. Meugang, kata Cek Midi, masih memiliki akar sejarah dan budaya yang kuat dalam kehidupan sosial di Aceh.

“Meugang bukan sekadar cerita tentang setumpuk daging. Ini adalah tentang harga diri. Ini tentang merawat budaya yang menjadikan Aceh sebagai salah satu daerah yang kental dengan nilai-nilai sosial budaya di nusantara,” kata Cek Midi.