Abuya Amran Diminta Jelaskan Langsung MPTT kepada MPU Aceh

Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh sangat terbuka untuk menerima Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf (MPTT). Namun MPU Aceh mengajukan syarat agar Abuya Syech Amran Waly Al-Khalidy, pemimpin majelis MPTT-I, menyurati MPU Aceh.


"Intinya pada Abuya. Jadi MPU melihat bahwa pendiri MPTT dan pengembangnya Abuya," kata Wakil Ketua MPU Aceh, Faisal Ali alias Lem Faisal, kepada rmolaceh.id, Kamis 15 Oktober 2020.

MPU, kata Lem Faisal, menginginkan Abuya hadir dan menerangkan langsung ajaran di MPTT. Bukan dengan mengirimkan orang lain. MPU, kata Lem Faisal, tidak melihat struktur organisasi, bukan melihat legalitas organisasi, bukan melihat ramai dan sadarnya orang.

Tugas MPU, kata Lem Faisal, adalah memfatwakan hukum, memberikan rekomendasi, dan mengkader orang-orang alim. Kehadiran Abuya Amran di MPU Aceh, kata Lem Faisal, harus dalam kapasitas sebagai pendiri.

Dengan kehadiran Abuya Amran, kata Lem Faisal, MPU bisa mendalami isi kajian, isi materi, dan kitab rujukan MPTT. Karena saat ini, kata Lem Faisal, pernyataan Abuya menimbulkan reaksi di masyarakat.

"MPU siap menerima jika Abuya ingin bersilaturahmi ke MPU, jangan mewakili organisasi," kata Lem Faisal.

Lem Faisal juga mengatakan bahwa MPU daerah tidak berhak mengeluarkan fatwa. Lem Faisal mengatakan MPU daerah tahu persis kewenangan mereka tidak sampai memfatwakan sebuah perkara.

Pada 29 September 2020, MPU Aceh meminta Pemerintah ACeh untuk menghentikan semua kegiatan MPTT-I yang diasuh oleh Abuya Amran. Surat ini, kata Lem Faisal, bukan fatwa. Ini hanya untuk meredam gejolak sampai Abuya Amran datang menjelaskan tentang MPTT.