Andai Jokowi Tangani Covid-19 seperti Urus Status Rektor UI

Alvin Lie. Foto: RMOL.
Alvin Lie. Foto: RMOL.

Kebijakan Presiden Joko Widodo dalam menanganai pandemi Covid-19 di Tanah Air dinilai belum maksimal. Pemerhati pelayanan publik, Alvin Lie, mengatakan, apabila sejak awal Presiden Jokowi secara tegas menanganai pandemi, maka keadaan hari ini akan jauh lebih baik.


Bekas anggota Ombudsman RI itu pun membandingkan penanganan pandemi dengan rangkap jabatan Rektor UI.

"Andai Pak Jokowi menangani Covid-19 secara tegas dan gesit seperti beliau menangani rangkap jabatan Rektor UI, kondisi kita hari ini bisa jauh lebih baik," ujar Alvin Lie, Rabu, 21 Juli 2021.

Gerak cepat Jokowi, kata Alvin, akan membuat rumah sakit tidak kelebihan kapasitas. Obat dan oksigen juga tak langka. Bahkan insentif tenaga kesehatan tidak telat. 

“Petugas pemakaman tak perlu lembur. Tidak perlu PPKM Darurat," kata Alvin Lie. 

Sebelumya, epidemiolog Universitas Indonesia, Pandu Riono, menilai pengumuman perpanjangan PPKM Darurat yang disampaikan Jokowi sebenarnya bisa dibaca bahwa pemerintah sedang menyiapkan pelonggaran dalam waktu sepekan ini.

“Jadi itu persiapan tanggal 26 (Juli). Ya seperti itu yang saya baca. Bukan perpanjangan PPKM Darurat. Pelonggaran PPKM Darurat tanggal 26 (Juli), dipersiapkan dalam lima hari ini," katanya kepada wartawan, Selasa (20/7).

Di satu sisi, Pandu Riono mempertanyakan kriteria berbasis sains yang menjadi dasar kebijakan pelonggaran akan diambil. Baginya, basis data yang akurat penting untuk menentukan apakah aktivitas warga harus diperketat atau diperlonggar.

Setiap upaya pengetatan atau pelonggaran, kata dia, harus didasarkan pada kriteria yang jelas berbasis ilmu pengetahuan dan data akurat. 

“Itu adalah kriteria epidemiologi, kriteria dari surveillance," kata Pandu.

Sementara saat ini, Pandu menyoroti kasus harian Covid-19 yang menurun selaras dengan tes corona yang juga turun. Menurutnya, hasil kasus harian dengan kondisi demikian tidak boleh dijadikan referensi.

“Ini jangan percaya. Harusnya (testing) naik terus, karena kita menekan dari angka positivity rate-nya," kata Pandu.