Angka Stunting di Aceh Duduki Peringkat Tiga Nasional  

Ilustrasi
Ilustrasi

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh, Safrizal Rahman, menyebutkan angka stunting di Aceh menduduki peringkat ketiga nasional. Berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI), angka itu berada di atas rata-rata nasional.


"Presentase stunting di Aceh 33.2 persen," kata Safrizal Rahman, di Banda Aceh, Rabu, 3 Agustus 2022.

Sebelumnya, kata dia, Indonesia telah berhasil menurunkan angka stunting dari 37.2 persen pada 2013, menjadi 27,7 persen di tahun 2019. Upaya dan langkah penanganan serta penanggulangan stunting secara garis besar dapat dilakukan melalui dua metode, yakni intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif yang difokuskan kepada seribu Hari Pertama Kehidupan (HPK). 

"Intervensi gizi spesifik yaitu berhubungan dengan peningkatan gizi dan kesehatan. Sedangkan intervensi gizi sensitif yakni penyebab tidak langsung stunting. Seperti ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan, air bersih, sanitasi lingkungan yang sehat dan lain-lain," kata dia.

Menurut Safrizal, intervensi stunting harus dilakukan secara konvergensi oleh multi sektor, dengan konsep kolaborasi akan menjadi kunci keberhasilan dalam percepatan penurunan angka stunting Aceh.  "Stunting di Aceh tidak boleh hanya dibebankan kepada Dinas Kesehatan dan BKKBN saja, kedua metode ini dilakukan secara konvergensi, yang artinya melibatkan seluruh pihak, lintas sektor dan lintas profesi," kata dia.

Di sisi lain, Safrizal mengapresiasi langkah yang dicetuskan oleh Kejaksaan Tinggi (Kajati) Aceh, melalui Program Adhyaksa Peduli Stunting Aceh.

Kegiatan tersebut, kata dia, merupakan kegiatan yang masuk dalam katagori intervensi gizi spesifik sebagaimana yang direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan RI.

“Demikian juga dengan bayi lima tahun (balita) yang tergolong stunting dibawah umur 24 bulan mendapatkan langsung asupan gizi tambahan, susu dan vitamin selama enam bulan kedepan," ujar dia.

Safrizal menilai, kegiatan tersebut melibat unsur-unsur lembaga non kesehatan sehingga patut diapresiasi. Dan Ia berharap kegiatan tersebut juga mendapatkan dukungan dan uluran tangan seluruh masyarakat.  "IDI siap mendukung program yang sudah dirintis oleh Kejati Aceh," katanya.

Safrizal berharap seluruh target sasaran stunting, baik balita dan ibu menyusui selain diberikan paket gizi tambahan. Di samping itu, juga akan dilakukan pemeriksaan kesehatan secara cuma-cuma selama enam bulan program pilot projek Adhyaksa peduli stunting berjalan. 

"Kita berharap, program seperti ini bisa diikuti oleh pihak lain sehingga permasalahan stunting Aceh benar-benar bisa berkurang dan tereliminasi. Sehingga anak-anak bisa tumbuh menjadi kader-kader pemimpin bangsa dimasa depan," sebut dia.