BKPRMI Aceh: Materi Khutbah Jumat Perlu Diperkaya

Ketua BKPRMI Aceh Mulia (tengah). Foto: ist.
Ketua BKPRMI Aceh Mulia (tengah). Foto: ist.

[rmol] Ketua Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Provinsi Aceh, Mulia, menilai langkah Kementerian Agama mengatur materi khutbah Jumat adalah tepat. Publik di Aceh, kata dia, tidak perlu khawatir. 


"Hal ini adalah pengayaan ilmu bagi da'i. Sah-sah saja Kemenag mengatur materi khutbah Jumat. Sebagai pemerintah (mereka) memiliki hak dan kewajiban itu," kata Mulia kepada Kantor Berita RMOLAceh, Sabtu, 24 Oktober 2020. 

Pemberian materi ini, kata Mulia, akan menambah wawasan para khatib yang akan menyampaikan materi kepada jamaah Jumat. Materi khutbah menjadi lebih bervariasi. Menurut Mulia, tidak semua khatib memiliki kekayaan pengetahuan. Tentu saja ada pesan-pesan perdamaian yang dibuat pemerintah. 

Tentang efektivitas kebijakan ini untuk mencegah provokasi, Mulia mengatakan hal itu bisa berhasil atau gagal. Hal ini juga tergantung cara khatib menyampaikan materi khutbah. Akan lebih bagus jika khatib dapat menggugah jamaah dengan materi yang baik.

Mulia juga menilai menentukan materi khutbah yang provokatif itu sangat subjektif. Semua itu, kata dia, tergantung pada respons jamaah menyikapi isi khutbah. Adakala khatib cenderung kritis vocal dalam menyampaikan saat berkhutbah namun terkesan provokatif. 

“Misal, dia menyalahkan yang satu dan membenarkan yang lain. Padahal keduanya adalah benar, hanya karena masalah furu`iyah kemudian jadi perdebatan.,” kata Mulia. “Hal ini malah menyulitkan masyarakat awam.”

BKPRMI Aceh, kata Mulia, mengharapkan kepada para guru-guru yang menjadi khatib agar menjadi penyejuk bagi masyarakat dan memberikan gambaran keilmuan yang luas. Dengan demikian, masyarakat menjadi lebih rasional dalam menghadapi sebuah isu.