BSI Raup Rp 55 Miliar dari Proses Migrasi Rekening Tabungan di Aceh

Panjang antrean untuk membuka tabungan baru di BSI. Foto: Irfan Habibi.
Panjang antrean untuk membuka tabungan baru di BSI. Foto: Irfan Habibi.

Pelaksana harian Ketua Umum Kadin Aceh, Muhammad Mada, menolak kebijakan Bank Syariah Indonesia yang memotong dana nasabah saat bermigrasi dari Bank Syariah Mandiri, BNI Syariah dan BRI Syariah. Berapapun jumlahnya.


Bahkan Cek Mada, nama alias Muhammad Mada, menduga migrasi ini merupakan cara pemerintah, melalui BSI, untuk menyedot dana nasabah. Tidak tanggung-tanggung, dari proses migrasi ini, di Aceh, BSI akan menghimpun uang sekitar Rp 55 miliar. 

“Jika benar dana nasabah berkurang 50 ribu (rupiah), jika jumlah yang migrasi 1,1 juta orang, maka total uang nasabah yang berkurang mencapai 55 miliar (rupiah),” kata Cek Mada, Rabu, 9 Juni 2021.

Padahal, Cek Mada, sebagian pemilik rekening di BRI Syariah, BNI Syariah dan BSM, telah terlebih dahulu diminta bermigrasi dari bank konvensional ke bank syariah sebagai konsekuensi dari pemberlakuan Qanun Lembaga Keuangan Syariah.

Dan kini, mereka juga diminta kembali datang dan menjadi nasabah baru di BSI. Seharusnya, kata Cek Mada, nasabah tidak perlu lagi ke kantor BSI karena proses migrasi terjadi secara otomatis. 

Cek Mada juga mengingatkan agar BSI tidak mengambil keuntungan dari kerugian nasabah, sekecil apapun itu. Uang Rp 50 ribu yang dipotong untuk membuka rekening baru adalah modus mengambil uang nasabah dengan modus migrasi. 

“Jika ada dana yang timbul akibat migrasi, itu seharusnya ditanggung oleh BSI. Bukan memberatkan nasabah,”  kata Cek Mada.

Cek Mada juga menyebut kebijakan migrasi di tengah tren penyebaran Covid-19 di Aceh sangat tidak tepat. Di saat pemerintah melarang kegiatan yang menyebabkan kerumunan, dan itu sangat berpotensi menjadi sarana penyebaran virus, BSI malah mengumpulkan nasabah dalam jumlah besar sebagai bagian dari pemindahan tabungan mereka.

Seharusnya, kata dia, migrasi tidak usah dipaksanakan. BSI cukup membantu mengalihkan tabungan mereka saat bertransaksi langsung. Dia hanya bisa berharap proses migrasi besar-besaran ini tidak menjadi kluster baru penyebaran Covid-19.

Head of Corporate Communication BSI, Eko Nopiansyah, menjelaskan bahwa tidak ada pemotongan saldo nasabah dalam proses migrasi. Ia menyebut ada batas minimum yang harus ada didalam rekening nasabah.

“Saldo didalam tabungan sebesar (Rp) 50 ribu itu merupakan batas saldo minimum,” kata Eko kepada Kantor Berita RMOLAceh, kemarin.

Eko mengimbau agar nasabah tidak perlu khawatir dengan hal itu. Karena dana tidak akan hilang dan tidak terpotong. 

“Itu bukan potongan, tapi saldo minimum uang tetap ada di rekening nasabah, Insyaallah nasabah aman. Tidak perlu khawatir dananya hilang atau terpotong,” kata Eko.