Ekspedisi Seroja Hadirkan Secercah Tawa di Tengah Bencana

Trauma healing. Foto: ist.
Trauma healing. Foto: ist.

Akibat intensitas hujan tinggi dan badai siklon menghancurkan Sumba Timur, pekan lalu. Selain banjir, layanan listrik dan telekomunikasi di beberapa wilayah lumpuh hingga warga tinggal di pengungsian.


Dalam manangkal trauma, Pertamina mengadakan proses pemulihan atau trauma healing. Kegiatan itu diikuti sebanyak 120 anak-anak usia 5-12 tahun di Kampung Ranu, Kelurahan Mauliru, Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. 

"Universitas Pertamina, Pertamina Foundation, Hope Indonesia dan Yayasan Dian Sastrowardoyo bergabung dalam ekspedisi Seroja. Menyalurkan bantuan bagi korban bencana banjir dan badai. Termasuk kegiatan trauma healing kepada anak-anak penyintas bencana," kata Sekretaris Universitas Pertamina, Roby Hervindo, Senin, 12 April 2021.

Robi mengatakan kegiatan tersebut merupakan dukungan psikososial. Tujuannya, kata Roby, mempercepat pemulihan dan menurunkan resiko anak mengalami permasalahan yang lebih berat di masa yang akan datang. 

Selain itu, kata Roby, dukungan psikososial adalah meningkatkan resiliensi masing-masing anak untuk dapat menghadapi situasi bencana saat ini dan masa depan.

Dalam kondisi bencana alam, kata Roby, anak-anak dan orang tua merupakan kelompok paling rentan. Roby menjelaskan anak-anak merupakan populasi yang mengalami dampak terburuk dari terjadinya bencana, terutama di negara-negara berkembang. PBB mengestimasi sekitar 100 juta anak di seluruh dunia menjadi korban bencana setiap tahun.

Penelitian World Health Organization, kata Roby, mengungkap dampak psikologis yang menimpa penyintas bencana diantaranya rasa kehilangan, berduka, marah, takut dan merasa bersalah. Bahkan sebagian korban merasakan reaksi gangguan psikologis berat berupa gangguan stres pasca trauma, depresi, pikiran bunuh diri dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang.

Salah satu relawan Sanggar Katalaha Hamolingu dan Gereja Kristen Sumba (GKS) Sumamapu, Rambu Esti Praing, mengatakan pasca bencana banjir dan badai, anak-anak merasa ketakutan dan selalu cemas. Mereka kebanyakan di rumah, selalu berdekatan dengan orang tuanya. Hal itu, mereka antisipasi jika terjadi kembali bencana.

Kegiatan tersebut anak-anak diajak melukan permainan dan seni. Seperti, beraktivitas dalam kegiatan-kegiatan motorik kasar, bermain bola, bernyanyi dengan alat musik, dan permainan kelompok serta individu. Kepada anak-anak juga dibagikan paket-paket makanan kecil.

"Sebelum paskah, anak-anak sering bermain bersama. Tapi sejak bencana, mereka hanya di rumah saja karena takut. Sehingga ketika ada kakak-kakak relawan dari Pertamina datang, anak-anak senang bisa berkumpul dan bermain bersama," kata Rambu.

Pihaknya berencana akan melanjutkan kegiatan trauma healing kepada anak-anak penyintas lain. Terdapat sekitar 30 pemuda-pemudi di posko relawan, yang aktif membantu penggalangan dan penyaluran bantuan kepada masyarakat.

Salah seorang anak Kampung Ranu, Maikal, mengatakan dirinya senang dengan kegiatan yang dilaksanakan. Ia bersama teman-temannya ceria dan antusias mengikuti beragam permainan. Orang tua anak-anak pun, aktif mendampingi anak-anak dalam trauma healing.

Di samping melakukan trauma healing, ekspedisi Seroja juga menyalurkan bantuan pangan dan obat-obatan bagi warga terdampak bencana.