Iqbal, Berkendara di Atas Vespa Keliling Indonesia

Muhammad Iqbal Nasution. Foto: Ist.
Muhammad Iqbal Nasution. Foto: Ist.

Ini adalah kisah pengendara sepeda motor Vespa asal Banda Aceh yang menghabiskan waktu tiga tahun untuk berkeliling Indonesia. Dia memulai perjalanan bermodalkan Vespa Super keluaran 1973 dan uang Rp 700 ribu. 


Adalah Muhammad Iqbal Nasution yang memulai perjalanan ini dari Banda Aceh hanya untuk masuk ke acara Kumpul Bareng Scooter Sumatera (KBSS) di Pekan Baru, Riau, pada September 2019. Namun dia meneruskan perjalanan hingga berkeliling 34 Provinsi yang ada di Indonesia. Pekan lalu, dia kembali ke Banda Aceh. 

Dia mengaku tidak berniat untuk memulai perjalanan ini. Karena memang uang di kantongnya menipis. Mereka memang berniat untuk jalan-jalan bersama teman-teman di sekretariat Mapala Pekan Baru untuk mendaku beberapa gunung di Sumatera.

“Saat itu dapat info ada orang hilang di Gunung Dempo (di perbatasan Sumatera Selatan dan Bengkulu). Saya ke sana selama dua minggu untuk bergabung sebagai relawan mencari orang hilang tersebut,” kata Iqbal kepada Kantor Berita RMOLAceh, Senin, 20 Juni 2022.

Iqbal mengatakan awalnya perjalanan itu dilarang orang tuanya. Namun akhirnya, setelah melewati setengah perjalanan, orang tua Iqbal mendukung. Apalagi mereka tetap berkomunikasi intens. 

Sampai di Jambi, Iqbal meneruskan perjalanan ke Palembang. Sempat berada di kota itu selama dua bulan, Iqbal melanjutkan perjalanan ke Lampung. 

“Dari Lampung, nanggung. Akhirnya nyeberang ke Jawa. Niat saat itu hanya sampai di Jakarta. Sampai di Jakarta, penasaran dengan kota-kota di Jawa. Lanjut lagi,” kata Iqbal. Dia sempat menjadi korban begal di Lampung. Namun, karena telah diantisipasi, dia hanya kehilangan uang Rp 7 ribu. 

Di Jakarta Pusat, kata Iqbal, dia sempat bekerja selama tiga bulan untuk bekal bertahan hidup dan meneruskan perjalanan. Upah kerjaan di Jakarta dijadikan modal untuk berangkat ke Bandung. Di sana, Iqbal mencetakkan kaos perjalanan untuk dijual kembali kepada orang-orang yang dia temui di perjalanan.

Dari Bandung, Iqbal melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta. Dia menetap di daerah itu selama tiga bulan karena terjebak dengan aturan pembatasan perjalanan. Di Yogyakarta, kata Iqbal, dirinya menghabiskan waktu bersama rekan-rekan Mapala dan para rekan-rekan Vespa. 

Setelah itu, melanjutkan perjalanan ke arah Jawa Timur dan menyeberang ke Bali. Dia bertahan di Pulau Dewata itu selama dua pekan. Dari Bali, dia berkendara ke Lombok dan melanjutkan perjalanan ke Sumbawa. Dia juga sempat menyeberang ke Labuan Bajo. 

Di Labuan Bajo, Iqbal juga bekerja. Dia tinggal tiga bulan di sana. Lantas dia melanjutkan perjalanan ke Pulau Lembata, masih sekitaran Nusa Tenggara Timur (NTT), terus ke Pulau Alor hingga ke perbatasan Timur Leste.

Daerah Timur, kata Iqbal, terkendala karena lama menunggu kapal penyeberangan. Kapal hanya ada satu sampai dua kali penyeberangan dalam satu bulan. Untuk melanjutkan ke pulau-pulau lain tidak ada jalan darat yang bisa ditempuh.

Dari sana, dia melanjutkan perjalanan ke Merauke. Dia bertahan selama tiga bulan di sana dan bekerja sebagai pembuat kopi di sebuah warung penjual ayam geprek. Lantas dia melanjutkan perjalanan ke Sorong hampir dua bulan dan melanjutkan perjalanan ke Raja Ampat, Papua Barat. 

Setelah itu melanjutkan penyeberangan ke beberapa daerah ataupun pulau. Di berangkat ke Ternate. Dari setiap daerah yang dikunjungi, Iqbal menggantung cenderamata kecil di vespa tuanya. Hanya Jayapura dan Wamena, dua daerah di Papua, yang tidak dia datangi. 

Dia juga mengapresiasi bantuan dari komunitas vespa yang dijumpai di sepanjang perjalanan. Dia mengatakan Indonesia adalah keindahan yang luar biasa. Namun dia mengaku sangat senang saat berada di Nusa Tenggara Timur. 

“Adatnya kental, warganya ramah, alamnya asik. Pokoknya mantaplah di NTT,” kata Iqbal.