KPK Periksa Anak Gubernur Nurdin

Juru Bicara KPK, Ali Fikri. Foto: ist.
Juru Bicara KPK, Ali Fikri. Foto: ist.

Komisi Pemberantasan Korupsi memeriksa M Fathul Fauzy Nurdin. Mahasiswa ini adalah anak kandung Nurdin Abdullah, Gubernur Sulawesi Selatan.


"Didalami pengetahuan saksi antara lain mengenai adanya dugaan transaksi keuangan dari tersangka NA yang terkait dengan perkara ini," ujar Pelaksana Tugas (Plt) Juru Bicara Bidang Penindakan KPK, Ali Fikri, kepada wartawan, Kamis, 8 April 2021.

Selain itu, penyidik juga memeriksa tiga orang saksi lainnya. Yaitu Raymond Ardan Arfandy selaku wiraswasta, Rudy Ramlan selaku PNS, dan John Theodore selaku wiraswasta.

Untuk saksi Raymond, dikonfirmasi soal adanya dugaan pemberian sejumlah uang dari tersangka Agung Sucipto (AS) selaku kontraktor kepada Nurdin terkait pengerjaan sejumlah proyek di Pemprov Sulsel.

"Sekaligus didalami mengenai kerja sama saksi (Raymond) dengan tersangka AS dalam pengerjaan proyek," kata Ali.

Sementara saksi Rudy didalami terkait soal berbagai proyek yang ditenderkan oleh Pemprov Sulsel yang salah satunya dikerjakan oleh tersangka AS.

"Untuk John Theodore didalami pengetahuan saksi antara lain terkait dengan proyek-proyek milik Pemprov Sulsel yang pernah saksi ikut mengerjakan," kata Ali.

Nurdin Abdullah bersama dengan lima orang lainnya telah ditangkap tangan oleh penyidik KPK akhir Februari lalu di tiga tempat yang berbeda di Sulsel.

Kelima orang yang turut diamankan saat OTT KPK adalah Agung Sucipto (AS) selaku kontraktor, Nuryadi (NY) selaku supir Agung Sucipto, Samsul Bahri (SB) selaku ajudan Nurdin, Edy Rahmat (ER) selaku Sekdis PUPR Provinsi Sulsel, dan Irfan (IF) selaku supir atau keluarga Edy Rahmat.

Dari OTT itu, KPK mengamankan sebuah koper yang berisi uang sejumlah Rp 2 miliar.

Penyidik KPK kemudian menetapkan tiga orang sebagai tersangka. Sebagai pihak penerima yaitu Nurdin dan Edy Rahmat. Sedangkan pihak pemberi yaitu Agung Sucipto.

Tak hanya itu, KPK juga telah mengamankan uang sebesar Rp 1,4 miliar, USD 10 ribu, dan SGD 190 ribu yang diamankan saat melakukan penggeledahan di rumah jabatan Gubernur Sulsel, rumah Dinas Sekdis PUTR Provinsi Sulsel, kantor Dinas PUTR dan rumah pribadi Nurdin Abdullah.