Menjelang Lebaran, Pemotongan Sortasi Sawit Menggila di Aceh

Slip pembelian sawit. Foto: ist
Slip pembelian sawit. Foto: ist

Sekretaris umum Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Petani Kepala Sawit Indonesia (Apkasindo) Aceh, Fadhli Ali, menyebutkan pemotongan sortasi dari pembelian Tandan Buah Segar (TBS) atau sawit di Aceh semakin menggila. Harga juga murah, terpaut jauh dari harga yang ditetapkan pemerintah.


Jika mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 01/PERMENTAN/KB.120/1/2018 tentang Pedoman Penetapan Harga Pembelian Tandan Buah Segar Kelapa Sawit Produksi Pekebun, pemotongannya hanya sekitar satu persen untuk petani mitra.

“Untuk petani swadaya, pemotongannya tiga, empat persen masih masih dimaklumi,” kata Fadhli Ali kepada Kantor Berita RMOLAceh, Rabu, 14 Juli 2021.

Fadhli mengatakan pemotongan saat ini sudah tidak wajar lagi. Pemtongannya sortasi mencapai 10 persen. Seperti di Nagan Raya.

Sedangkan menyangkut dengan pembelian, ketentuan pembelian harga sawit sudah ditetapkan oleh Pemerintah Aceh melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh. Ketentuan itu, berlaku minggu kedua bulan Agustus mendatang.

Menurut Fadhli, ketentuan itu menjadi pedoman bagi perusahaan kepala sawit dalam membeli TBS. Untuk itu, perlu peran aktif dari dinas daerah mengawasi pembelian sawit.

Fadhli menyadari bahwa petani sawit di Aceh belum ada kemitraan dengan perusahaan kepala sawit. Hanya di Aceh Singkil, jumlahnya sanat sedikit.

“Oleh karena itu, kalau pun harga masih belum ideal sesuai yang ditetapkan pemerintah, kita bisa maklumi, dan memahami. Tetapi jangan terlalu jauh dengan harga yang ditetapkan pemerintah,” kata Fadhli.

Fadhli menjelaskan jangan sampai harga sawit dibeli sudah dibeli dengan harga yang sangat murah. Terlalu sadis jika pemotongan sortasi mencapai 7-10 persen.

Anehnya, kata dia, pemotongan sortasi yang sangat besar di Nagan Raya. Pemotongan sortasi mencapai 7-10 persen. Semenatra di Aceh Timur, tiga, empat persen saja. Aceh Singkil, hanya sekitar 2,5 persen pemotongannya.

Padahal, dari 11 pabrik kepala sawit di Nagan Raya, salah satu dimiliki oleh pemimpin daerahnya. Harusnya, harga lebih mahal.  

“Nah, itu merugikan petani,” kata Fadhli. Dengan keadaan demikian, Menurut Fadhli, agen pengumpul sawit tidak mau merugi. Sehingga dibeli dengan harga murah dari petani.

Fadhli menyebut dalam keadaan menjelang lebaran, pabrik kelapa sawit selalu menekan petani.

“Ayoklaa kedepan ini, cara cara seperti itu ditinggalkan. Apkasindo di daerah agar mengawasi, dan jika terdapat kejanggalan dapat berkoordinasi dengan Dewan Perwakilan Wilayah,” kaya Fadhli.

Fadhli berharap dalam keadaan pandemi Covid-109, ditambahkan dengan menjelang lebaran, pabrik kelapa sawit harus berempati terhadap petani sawit.

Fadhli menegaskan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) supaya berempati terhadap situasi yang dihadapi petani.

Di samping itu, kata Fadhli, petani sawit jangan memanen sawit dalam keadaan mengkal atau belum matang total. Akibatnya, perkembangan tanaman juga terganggu.