MPU Ihwal Penangkapan Pimpinan Pesantren Diduga Jadi Koordinator Teroris di Aceh  

Ketua Majelis Permusyarawatan Ulama (MPU) Aceh, Faisal Ali alias Lem Faisal. Foto: Muhammad Fahmi/RMOLAceh.
Ketua Majelis Permusyarawatan Ulama (MPU) Aceh, Faisal Ali alias Lem Faisal. Foto: Muhammad Fahmi/RMOLAceh.

Ketua Majelis Permusyarawatan Ulama (MPU) Aceh, Faisal Ali alias Lem Faisal, mengatakan koordinator teroris yang ditangkap di Aceh memang pimpinan pesantren. Namun bukan pimpinan pesantren yang punya silsilah ilmu dari ulama Aceh.


“Ini pesantren terpadu, pimpinannya bukan orang Aceh,” kata Lem Faisal kepada Kantor Berita RMOLAceh, Jumat, 6 Agustus 2022.

Lem Fasal menjelaskan, pimpinan pesantren itu datang dari luar Aceh untuk mengembangkan ilmu yang dianut. MPU, kata dia, menyarankan agar ilmu yang tidak sesuai dengan dengan ajaran Islam harus diseleksi dengan ketat.

“Semuanya harus dibuat ketentuan. Ada lembaga khusus yang ditentukan oleh pemerintah,” kata Lem Faisal. “Misalnya, MPU bisa mendalami, mengkaji tentang ideologi dan latar belakang orang-orang itu.”

Menurut Lem Faisal, hal yang paling subtansi adalah ilmu yang ajarkan. Bukan persoalan materi apalagi tentang administrasi. “Jadi jangan sampai Aceh ini terus identik dengan nilai-nilai kekerasan,” ujar dia.

Harapannya, kata dia, masyarakat selalu waspada agar daerah Aceh jangan dijadikan daerah untuk mengembangkan ajaran-jaran sesat dan kekerasan. Karena kepentingan mereka hanya ingin merusak. “Dan inilah yang perlu kita jaga, kita waspadai ke depan,” sebutnya.

Untuk itu, Lem Faisal juga berharap ada kebijakan konkrit dan menyeluruh dari pemerintah dalam memberangus kejahatan-kejahatan yang dibalut dengan ke Islaman. Karena Islam tak mengajar tentang kekerasan.

“Jadi semuanya harus punya ketentuan khusus. Supaya kita bisa mendeteksi hal-hal, upaya-upaya, penyimpangan-penyimpangan, kedok-kedok, dalam membuka lembaga-lembaga pendidikan itu sendiri,” ujar dia.

Sebelumnya, Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror menangkap Koordinator Teroris Wilayah Aceh Jaringan Jemaah Islamiyah (JI) berinisial ISA (37) di Kantor Desa Sidodadi, Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang, Rabu, 3 Agustus 2022.

Kepala Bidang Humas Polda Aceh, Kombes Winardy membenarkan adanya penangkapan satu terduga teroris yang merupakan Qoid Korda Wilayah Aceh jaringan Jemaah Islamiyah. Hal tersebut sebagaimana laporan yang diterima dari Kasatgaswil Aceh Densus 88 Anti Teroris

Dalam struktur JI, kata Winardy, ISA menjabat sebagai Korda Aceh. Di samping itu dia juga Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Sumbagut Wilayah Aceh Tamiang dari tahun 2010 sampai sekarang.

Selain itu, kata Winardy, ISA pernah mengikuti Turba FKPP Sumatera Utara-Aceh yang disabotase dengan pelatihan guru pesantren di Villa Gundaling, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara, tahun 2010-2011.

"Teroris yang ditangkap ini merupakan koordinator dan memiliki peran penting dalam struktur JI. Saat ini dia diamankan ke Rutan Polda Sumut untuk dilakukan pemeriksaan intensif," kata Winardy.

Winardy menyebutkan, dengan ditangkapnya ISA, maka total terduga teroris yang sudah diamankan dari berbagai wilayah di Aceh adalah 15 orang, baik kelompok Jemaah Islamiyah maupun Jemaah Anshorut Daulah (JAD).

Dengan rincian, yaitu: Kabupaten Aceh Tamiang 10 orang, yaitu DN (JI), SY (JI), JU (JI), RS (JI), FE  (JI), ES (JI), RU (JI), MU alias AL (JI), A alias S alias E (JI), dan terakhir adalah ISA (JI) yang merupakan Koodinator Wilayah Aceh. Kemudian, yang ditangkap di Banda Aceh adalah AK (JI) dan MR (JAD), selanjutnya di Bireuen MH (JI), Aceh Utara MS (JAD), dan Langsa MA (JI).

"Jumlah seluruhnya teroris yang telah ditangkap adalah 15 orang, yaitu 13 orang kelompok JI dan dua orang kelompok JAD," kata Winardy.