Mypertamina, Siapa yang Takut?

Ilustrasi
Ilustrasi

MERUPAKAN keharusan dan baik jika mulai sekarang kita tau siapa sebetulnya yang mengkonsumsi solar dan pertalite subsidi. Digitalisasi akan menyajikan data itu, data yang terbuka dan transparan. Tidak ada satu manusiapun di era transparansi digitalisasi ini yang dapat menyembunyikan keinginannya dan apa yang mereka konsumsi.

Anehnya, ada saja pihak yang menolak sebuah rencana pendataan melalui digitalisasi Mypertamina untuk mengontrol pengguna BBM bersubsidi, solar, pertalite dan bahan bakar lainnya. 

Mengapa ditolak? Padahal pendataan ini untuk memastikan siapa yang memperoleh BBM subsidi, berapa yang dibeli setiap hari. Demgan digitalisasi maka nantinya semua akan tau siapa dan betapa orang yang punya mobil, truck, kapal, kereta, yang menikmati sibsidi BBM. 

Mengapa ditolak? Ini pintu masuk untuk transparansi. Lalu siapa mereka yang menolak ini? Bahwa jika pungutannya yang disoal, maka solusinya Pertamina  harus meniadakan pungutan itu. Sekali lagi, MyPertamina adalah alat kontrol penggunaan BBM dan subsidi pada energi fosil. 

Tanpa digitalisasi, maka yang terjadi selama ini, kuat dugaan solar subsidi lari ke perusahaan sawit dan tambang. Kalau demikian maka perlu segera diselidiki. Luar biasa perusahaan - perusahaan ini, sudah menikmati subsidi minyak goreng masih pula menikmati subsidi solar. Banyak sekali keuntungan mereka. 

Demikian juga dengan bisnis tambang, sudahlah menikmati harga tambang yang melambung tinggi, masih juga menikmati subsidi solar. Sementara setoran mereka kepads negara dalam bentuk bagi hasil dan royalti hanyalah seupil.

Ada baiknya mengetahui berapa subsidi bahan bakar yang mereka nikmati. Mereka menikmati dua sampai tiga kali dari harga yang mereka bayar sekarang ini untuk mendapatkan BBM. Di satu sisi mereka sedang menikmati harga komoditas yang melambung tinggi, bersamaan dengan naiknya harga minyak mentah. 

Jadi tidak fair, yang bisnis BBM jual murah bahan bakar kepada pengusaha sawit dan tambang batubara, yang secara bersamaan menikmati harga komoditas yang tinggi saat ini.

Mereka pengusaha sawit dan pertambangan serta pengusaha logistik lainnya mendapatkan subsidi BBM dari negara.  Menurut Sri Mulyani subsidinya mencapai Rp500 triliun lebih, terdiri  dari Rp420 triliun subsidi BBM dan sebesar Rp80 triliun subsidi listrik.

Dari ini saja banyak sekali yang mereka terima. Lalu rakyat terima apa dari subsidi ini. Rakyat tidak menerima apa - apa. Padahal harga bahan pokok, kebutuhan primer dan sekunder lainnya tetap mahal di Indonesia. Harusnya subsidi sebesar itu bisa membuat segala kebutuhan hidup murah karena bahan bakarnya disubsidi. Tapi hal itu tidak terjadi. Sementara mereka mengambil subsidi bahan bakar dengan alasan agar tidak ada inflasi. Faktanya harga bahan bakar belum naik, inflasi sudah terjadi. Mereka menipu negara.

Di negara manapun di dunia ada subsidi. Negara wajib memberikan subsidi, apalagi ditengah krisis, sehingga banyak yang harus diselamatkan dengan subsidi. 

Salah satunya yaitu fakur miskin dan anak anak terlantar dipelihara oleh negara. Mereka harus disubsidi. Itu adalah kewajiban negara. Namun twrkait subsidi BBM ini, apakah mereka menikmati?

Tentu saja tidak, padahal mereka yang miskin di Indonesia itu 40 persen penduduk dengan pendapatan terbawah, atau lapisan termiskin dari jumlah penduduk. Jumlahnya sekitar 100 juta. Mereka itu bukan pemilik 16 juta mobil  yang ada di Indonesia sekarang ini. Atau yang mutlak miskin sekitar 7 persen dari jumlah penduduk. Atau sekitar 19 juta jiwa. Mereka ini benar - benar miskin dan lapar. Merekalah yang harus mendapatkan subsidi Rp500 triliun.

Pemerintah belum berfikir sejauh itu. Sekarang baru mau mulai dengan merapikannya lewat Pertamina,, yaitu dengan mypertamina. Suatu aplikasi yang didesainuntuk mengontrol BBM subsidi. Aplikasi untuk mengetahui siapa dan berapa seseorang mengkonsumsi solar dan pertalite subsidi. Ini bukan pelarangan penggunaan subsidi, tapi ini adalah pendataan. 

Padahal ini adalah agenda yang baik. Dengqn aplikasi MyPertamina maka solar kencingan dan solar gojekan hilang. Dengan MyPertamina maka perbuatan curang dengan cara mengambil atau mencuri BBM dari pertamina lalu dijual dengan harga tiga kali lebih mahal ke industri atau diseludupkan ke luar negeri bisa terdeteksi. Padahal mereka bukan orang biasa, bukan pula orang kebanyakan, bahkan mereka orang kuat.

| Penulis adalah peneliti Asosiasi Ekonomi dan Politik Indonesia (AEPI).