Naturalisasi Jangan Hambat Prestasi Atlet Indonesia

Anggota DPR RI, Muhammad Kadafi, mengingatkan agar proses naturalisasi atlet tidak menghambat prestasi atlet Indonesia. Dia menilai naturalisasi selama ini tidak memberikan dampak berarti bagi perkembangan dunia olahraga dalam negeri.

“Sebaiknya, kita mendorong dan bekerja keras untuk peningkatan prestasi atlet-atlet Indonesia, bukan memilih jalan pintas naturalisasi,” kata Kadafi dalam keterangan tertulis, Jumat, 28 Agustus 2020.

Bahkan Kadafi mengatakan belum melihat nilai positif naturalisasi atlet tersebut. Terutama bagi atlet-atlet Indonesia. Jika tidak ada nilai positifnya, maka lebih baik seluruh pemangku kepentingan olahraga di neger ini fokus untuk mengembankan kemampuan atlet muda di Indonesia.

Untuk mendorong kualitas atlet Indonesia, Kadafi menyarankan pemerintah untuk mengundang pelatih berkompeten. Hal ini diyakininya lebih bermanfaat. Kadafi menegaskan bahwa atlet berkaitan dengan tim olahraga, bukan perorangan.

“Bahkan pelatih-pelatih yang berkompeten dapat menularkan ilmu-ilmunya kepada pelatih-pelatih di Indonesia, itu lebih positif. Kalau naturalisasi kan kesannya hanya mencari jalan pintas saja,” kata Kadafi.

Naturalisasi atlet, kata Kadafi, juga dapat mengganggu semangat para atlet Indonesia. Mental mereka, kata Kadafi, jatuh karena mereka menyadari bahwa usaha keras mereka selama tidak dihargai. Kondisi ini, kata Kadafi, tidak baik bagi perkembangan atlet.

“Naturalisasi memupus harapan atlet dan merusak semangat juang mereka. Saya kira, pemerintah dan pengurus cabang olahraga perlu memperhatikan soal-soal seperti ini. Kita juga harus melihat tujuan utama dari kegiatan olahraga kita,” kata Kadafi.

Sebetulnya, kata Kadafi, yang paling penting adalah menyelesaikan inti persoalan pada dunia olahraga. Misalnya, menyiapkan kurikulum pembinaan seragam dalam dunia olahraga. Menciptakan kompetisi yang stabil. Dan mendorong agar pengurus cabang olahraga memiliki roadmap untuk atlet-atletnya.

Hal lain yang diperhatikan adalah dengan sarana dan prasarana bagi atlet serta jaminan masa depan para atlet. Menurut Kadafi, saat membangun sarana olahraga, harus diperhatikan integrasi sarana olahraga dengan dunia pendidikan.

“Jika fasilitas-fasilitas ini terintegrasi dengan dunia pendidikan maka atlet-atlet yang menggunakan adalah mereka yang berada dalam dunia pendidikan. Artinya selain bersekolah mereka juga adalah atlet,” katanya.

Kadafi juga mendorong agar Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) meningkatkan prestasi para atlet di Indonesia. Dengan demikian, pencapaian opini wajar tanpa pengecualian (WTP) untuk Kemenpora dari Badan Pemeriksa Keuangan, Berbanding lurus dengan prestasi atlet.