Penanggulangan C-19 di Aceh Terlihat Gagah, Ternyata Gagap dan Gugup

Penanganan dan pemberantasan covid-19 memerlukan langkah terukur, sistematis dan masif. Sayangnya, setelah dua bulan, terlihat sejumlah kelemahan yang menghambat upaya tersebut.


Pengamat kebijakan publik Nazmul Zaman menilai selama pandemi corona, kabupaten dan kota di Aceh bekerja sendiri-sendiri. Hal ini mengakibatkan protokol pencegahan dan penanganan dari pusat tidak sepenuhnya dapat dilakukan karena kebijakan yang berbeda.

“Program (penanggulangan) covid-19 di Aceh belum menunjukkan kekuatan pemerintah bersama rakyat. Saya melihat Pemerintah Aceh mempersiapkan dirinya dengan baik untuk bisa menangani umpan PDP dari daerah-daerah di seluruh Aceh,” kata Nazrul, Jumat, 24 April 2020.

Menurut Nazrul, tidak semua daerah melakukan langkah progresif dalam penanganan corona. Bahkan di tingkat puskesmas, hanya sebagian kecil yang aktif membantu proses pendataan dan memantau orang-orang yang masuk dalam daftar pengawasan. Yang lain, kata Nazrul, “tenang-tenang saja dan hanya menunggu laporan.”

Proses penjagaan di desa juga tidak sejalan dengan protokol penanganan covid-19. Ada desa yang membuat pos komando dan dijaga beberapa orang siang dan malam. Kondisi ini menempatkan para penjaga dalam risiko yang tinggi tertular.

Sementara di level yang lebih tinggi, saat ini, kata Nazrul, dipaksa mencari alokasi anggaran yang besar bagi program penanggulangan covid-19.

“Sayang, mereka hanya berlomba-lomba mencari anggaran besar. Namun tidak terlihat upaya besar untuk melakukan transparansi penggunaan dana,” kata Nazrul. “Kondisi ini memposisikan Aceh sebagai daerah Lampu Merah Covid-19.”

Nazrul mengingatkan bahwa Aceh belum bebas dari ancaman penyebaran corona. Namun perilaku masyarakat menunjukkan hal sebaliknya. Kerumunan warga di warung-warung kopi. Jalanan yang ramai. Semua itu adalah pemandangan keseharian di banyak tempat di Aceh.

“Saya mengusulkan agar razia yang mencegah masyarakat berkumpul dan berkerumun kembali diintensifkan. Masyarakat kita terlalu lalai dan menganggap enteng masalah. Itu adalah akar masalah kita yang sebenarnya,” kata Nazrul.[r]