Polresta Banda Aceh Ungkap Kasus Kepemilikan Satwa Dilindungi

Konferensi pers terkait kepemilikan satwa dilindungi di Polresta Banda Aceh. Foto: Elza Putri Lestari.
Konferensi pers terkait kepemilikan satwa dilindungi di Polresta Banda Aceh. Foto: Elza Putri Lestari.

Aparat Kepolisian Resor Kota Banda Aceh mengamankan tujuh barang bukti satwa langka dan dilindungi dari rumah seorang tersangka narkoba berinisial TJ (54) di Kecamatan Banda Raya, Banda Aceh. Sebagian masih hidup, sebagian lagi telah diawetkan.


“Ada satwa yang dilindungi sudah diawetkan dijadikan koleksi, seperti jaguar, macam kumbang. Sementara itu, kami juga melakukan penyitaan terhadap burung cenderawasih, burung kakak tua, dan burung merak,” kata Kepala Kepolisian Resor Kota Banda Aceh, Kombes Pol Joko Krisdianto, Kamis, 14 Januari 2021.

Joko Krisdiyanto menyebutkan barang bukti satwa dilindungi ini diamankan atas informasi masyarakat. TJ menyimpan dan memelihara satwa dilindungi tanpa memiliki izin. TJ, pemilik satwa dilindungi ini, kata Joko merupakan tersangka atas kepemilikan narkoba jenis sabu-sabu yang ditangkap Badan Narkotika Nasional (BNN) pada Desember 2020 lalu di Gampong Jawa, Banda Aceh.

"Kita akan koordinasi dulu bagaimana proses hukumannya, karena pemilik satwa ini sedang di menjalani proses hukum kasus narkoba. Tujuh barang bukti satwa dilindungi ini selanjutnya diserahkan ke pihak BKSDA," kata Joko.

Polisi masih menyelidiki cara pelaku menyelundupkan burung cenderawasih ke Tanah Rencong. Kasat Reskrim Polresta Banda Aceh, AKP Muhammad Ryan Citra Yudha, mengatakan jenis burung cenderawasih akan sulit diselundupkan menggunakan pesawat terbang.

Ryan menduga hewan-hewan ini dibawa ke Aceh lewat jalur laut. Apalagi TJ memiliki boat besar juga yang saat ini dijadikan barang bukti terkait kasus narkoba oleh BNN Pusat. Menurut istri TJ, satwa liar itu sudah dikuasai sekitar 10 tahun. 

Ryan juga mengatakan bahwa kepolisian akan terus mengawasi peredaran satwa dilindungi di Banda Aceh.

Atas kepemilikan satwa tanpa izin ini, TJ diancam dengan Undang undang RI Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistem dengan hukum penjara lima tahun dan denda Rp 100 juta.