Saifuddin Bantasyam: Tak Perlu Apriori terhadap Umur Perdamaian Aceh

Saifuddin Bantasyam. Foto: Dokumentasi pribadi.
Saifuddin Bantasyam. Foto: Dokumentasi pribadi.

Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Saifuddin Bantasyam, mengingatkan semua pihak untuk tidak apriori terhadap perdamaian di Aceh. Dia mengatakan umur perdamaian di Aceh tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan.


Setelah perdamaian antara GAM dan Pemerintah RI tercapai, melalui penandatanganan Perjanjian Damai Helsinki, di Finlandia, 15 Agustus 2005, situasi keamanan di Aceh berubah. Perlahan-lahan, Aceh mulai membangun seperti daerah normal lainnya.

Saifuddin Bantasyam mengatakan proses panjang itu sebenarnya cukup untuk menumbuhkan kepercayaan terhadap kesungguhan perdamaian di Aceh. Apalagi, perjanjian damai itu diikuti dengan sejumlah kebijakan yang berpihak kepada Aceh, termasuk pengesahan UU Nomor11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. 

“Jika sekiranya ingin diganggu, maka gangguan itu sudah muncul beberapa tahun setelah perdamaian itu dicapai, atau masa-masa (tertentu), seperti pemilu, baik pemilu legislatif maupun pemilihan kepala daerah,” kata Saifuddin Bantasyam kepada Kantor Berita RMOLAceh, pada Jumat, 3 Desember 2021.

Nyatanya, kata Saifuddin Bantasyam, gangguan itu tidak pernah muncul. Bahkan perhelatan demokrasi, baik pemilihan umum ataupun pemilihan kepala daerah, berlangsung aman berkali-kali. 

Saifuddin Bantasyam juga mengatakan bahwa munculnya kekhawatiran, setiap tahun menjelang peringatan Hari Lahir Gerakan Aceh Merdeka saban 4 Desember, terlalu berlebihan. Saifuddin mengatakan tindakan-tindakan yang muncul dari rasa khawatir terhadap potensi terjadinya kerusuhan, atau hal lain yang dapat mengganggu perdamaian dan ketenangan di tengah masyarakat, tidak perlu terjadi. 

Saifuddin Bantasyam mengajak semua pihak untuk melihat fakta bahwa setelah 17 tahun berdamai dengan Pemerintah Indonesia, tidak ada hal-hal yang merusak perdamaian di Aceh. Baik dalam bentuk gerakan bersenjata atau serangan bersenjata terhadap lembaga pemerintahan atau kepada aparat keamanan oleh GAM.

Saifuddin menambahkan, jika ada pihak yang ingin merusak suasana damai, maka tindakan itu tidak akan terjadi pada peringatan Milad GAM. Para pelaku akan memperhitungkan kesiapan aparat keamanan yang melakukan pengamanan pada hari tersebut untuk melakukan serangan-serangan kepada instansi pemerintah. 

"Logikanya, ngapain turun ke jalan jika polisi dan TNI juga berada di berbagai ruas jalan?" kata Saifuddin Bantasyam.