Tersangka Jual-Beli Kulit Harimau, Bekas Bupati Bener Meriah Bebas

Ilustrasi. Foto: Net.
Ilustrasi. Foto: Net.

Bekas bupati Bener Meriah, Ahmadi, dibebaskan dari tahanan Kepolisian Daerah (Polda) Aceh. Ahmadi dibebaskan bersama satu rekannya.


Kepala Bidang Humas Polda Aceh, Kombes Pol Winardy, menjelaskan tersangka dibebaskan karena masa tahanan sudah habis. Terhitung sejak 1 Agustus lalu.

"Namun, proses hukum nya tetap berjalan," kata Winardy kepada Kantor Berita RMOL Aceh, Ahad, 7 Agustus 2022.

Winardya mengatakan, penyidik Polda Aceh masih memenuhi berkas dari Jaksa Penuntut Umum (JPU). Karena dokumen yang ada masih P19.

Winardy menyebutkan, tersangka akan kembali diperiksa pada 10 Agustus mendatang. Karena masih butuh pemeriksaan lebih lanjut. 

Sebelumnya, Balai Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Sumatera bersama Kepolisian Daerah (Polda) Aceh mencokok bekas Bupati Bener Meriah, Ahmadi. Dia diduga melakukan tranksaksi jual-beli kulit harimau Sumatera.

Ahmadi ditangkap belum genap satu tahun dirinya terbebas dari kasus korupsi dana otonomi khusus (Otsus) Aceh. Ahmadi ditangkap bersama rekannya berinisial S (44) di Desa Pondok Baru, Kecamatan Bandar, Bener Meriah dan dibawa ke Mako Polda Aceh.

"Mereka ditangkap saat operasi peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL), 24 Mei lalu, sekitar pukul 04.30 WIB," kata Subhan kepada Kantor Berita RMOLAceh, Kamis, 26 Mei 2022.

Subhan menyebutkan, saat penangkapan mereka juga diamankan sejumlah barang bukti lainnya. Yakni, kulit, tulang belulang, gigi taring harimau.

Selain Ahmadi dan rekannya, kata Subhan, ada seorang lagi yang diduga terlibat dalam dalam kasus ini, yaitu (I). Namun (I) melarikan diri dari kejaran petugas.

Subhan mengatakan, dari hasil pemeriksaan yang sudah dilakukan, masih perlu dilakukan pemeriksaan saksi-saksi tambahan untuk meningkatkan status kedua orang tersebut. 

"Untuk selanjutnya kedua orang yang diamankan dikembalikan kepada keluarga, namun tetap diberlakukan wajib lapor kepada penyidik di kantor Pos Gakkum Aceh," kata Subhan. 

Sementara, barang bukti kulit harimau Sumatera beserta tulang belulangnya tanpa gigi taring serta satu mobil beserta kunci, dua handphone, satu STNK, satu toples plastik dan satu box plastic diamankan di kantor Pos Gakkum Aceh. Dugaan tindak pidana sebagaimana unsur Pasal 21 ayat (2) huruf d jo pasal 40 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 

"Atas perbuatannya tersebut, tersangka terancam hukuman pidana penjara maksimal lima tahun dan denda maksimal (Rp) 100 juta," ujar Subhan.