Wak Yan Ungkap Persoalan Nelayan dan Penyebab Kurangnya Ikan di Laut Aceh

Pelabuhan ikan di TPI Lampulo. Foto: Muhammad Fahmi/RMOLAceh
Pelabuhan ikan di TPI Lampulo. Foto: Muhammad Fahmi/RMOLAceh

Penasehat Panglima Laot Aceh, Sofyan Anjib alias Wak Yan, mengatakan sudah tiga bulan lalu wilayah Indonesia memasuki musim paceklik atau perubahan cuaca. Tidak heran jika nelayan tidak melaut. Sehingga Aceh kekurangan stok ikan dan harganya pun mahal.


"Padahal di Asia Tenggara, pintu gerbang ikan adalah Aceh," kata Wak Yan kepada Kantor RMOLAceh, Jumat, 10 Desember 2021.

Di Aceh, kata Wakya, setahun bisa menyediakan ikan hanya sembilan bulan. Yakni dari Maret hingga November. Sedangkan dari Desember hingga Februari, memasuki musim paceklik.

Wak Yan menjelaskan pada dasarnya ikan dari eropa masuk ke Aceh itu terbagi. Karena letak Pulau Sumatera asing dari daratan Negara Malaysia, Singapura, India dan negara lainnya.

"Jadi ikan ini datang dari kelumbu, terus pindah dia sampailah ke Aceh. Sebagian masuk dari Samudera Hindia, dan sebagian masuk dari Selat Malaka," ujar Wak Yan. "Bulan 12 habis ikan ini sudah tidak ada lagi. Ini sudah masuk paceklik tidak ada ikan lagi sampai bulan Maret 2022 baru ada ikan.”

“Dengan besarnya  pemakaian minyak, dan harga ikan ikut mahal. Dampaknya, rugi bagi para nelayan,” sebut dia. “Lebih bagus para nelayan bersandar, karena sudah habis ikannya.”

Penasehat Panglima Laot Aceh, Sofyan Anjib alias Wak Yan. Foto: Muhammad Fahmi/RMOLAceh

Wak Yan menjelaskan biasanya pada Desember hingga Februari ikan sudah ke laut Natuna. Ikannya melintasi Samudera Hindia masuk ke Selat Sunda dari sebelah Australia sampai ke Laut Natuna di Sulawesi.

 "Jadi ikannya sekarang ada di Sulawesi, mereka keliling lagi masuk ke Eropa, dan datang lagi ke Aceh sampai bulan maret mendatang," kata Wak Yan.

Tak heran lagi, kata Wak Yan, karena kondisi demikian telah terjadi setiap tahunnya. Wak Yan menjelaskan pada musim paceklik pendapat ikan berkurang dan mahal. Sebelumnya, Rp 10 per kilogram sedangkan sekarangn Rp 35-50 ribu per kilogram. "Jadi orang-orang miskin tidak dapat makan ikan lagi sekarang," kata Wak Yan.

Dia berharap pemerintah harus memperhatikan sarana dan prasana. Seperti, tempat pembeku ikan. “Jangan dibikin cilet-cilet (asal jadi) supaya ikan tidak putus. Bisa disimpan bertahun-tahun," kata Wak Yan.

Menurut Wak Yan, dengan sarana dan prasarana yang baik, harga ikan tetap stabil. “Jangan punya gelar S1 sampai S5, tapi perhatikanlah sarana prasarananya. Nanti kalau ikan sudah habis, sudah tidak dapat dimakan lagi orang Aceh, umumnya orang Indonesia," ucap Wak Yan.

Menurut dia, pemerintah harus belajar berbudidaya. Tanpa harus memikirkan investasi besar-besaran. Seperti pengadaan kapal, karena kapal sudah banyak.

Wak Yan menyebutkan nelayan Aceh menangkap ikan sudah berlebihan. Dimulai dari bulan Maret hingga November. “Kemudian tiga bulan selanjutnya masuk ke musim paceklik. Tapi kalau ada tempat pengawetan ikan bisa dimanfaatkan, bisa dimakan sepanjang tahun. Harganya pun terjangkau," kata Wak Yan.

Untuk itu, Wak Yan, berharap kepada pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah daerah untuk meningkatkan sektor perikanan.