YARA Temukan Aktivitas Galian C Ilegal di Aceh Barat Daya

Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), Suhaimi alias Semi di tempat Galian C Ilegal. Foto: ist
Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), Suhaimi alias Semi di tempat Galian C Ilegal. Foto: ist

Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), Suhaimi alias Semi, menemukan aktivitas penambangan galian C tak berizin di Gampong Pantee Rakyat, Kecamatan Babahrot, Aceh Barat Daya. YARA menduga aktivitas ilegal melanggar Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara.  


“Kami telah menginvestigasi dan menginventarisir kegiatan melanggar hukum dan merusak lingkungan itu,” kata Suhaimi dalam keterangan tertulis, Jumat, 11 Juni 2021.

Berdasarkan hasil investigasi di lapangan, aktivitas pengambilan material batu gajah (batu gunung) di kawasan pengunungan Dusun Plat Merah dilakukan di lokasi yang berjarak hanya 200 meter dari jalan nasional. 

Kegiatan itu diduga ilegal karena tidak tercantum pada data perizinan usaha pertambangan mineral pada Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Abdya.

Saat ditelisik ke kantor terkait, juga tidak tercantum lokasi itu sebagai areal penambangan batu gunung. Izin penambangan batu gunung di Abdya, kata Suhaimi, hanya dikeluarkan di tiga lokasi, yakni di Gampong Pasar Kota Bahagia Kuala Batee, di Gampong Kayee Aceh Lembah Sabil, dan di Gampong Babahlung Blangpidie.

Suhaimi meminta kepolisian agar mengusut dan memproses tuntas sesuai hukum yang diamanahkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang perubahan atas UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara, serta peraturan Menteri ESDM RI Nomor 7 Tahun 2009.

Semi menyebut pelaku galian C illegal itu patut diduga telah melakukan perbuatan pelanggaran hukum. Untuk itu, kegiatan mereka perlu diusut karena merugikan negara juga berdampak tidak baik terhadap lingkungan.

Penulis: Adi Kurniawan